Di usia ketika kebanyakan anak muda masih sibuk menyelesaikan tugas kuliah atau melamar pekerjaan pertama, Raden Raka sudah memegang tanggung jawab yang jauh lebih besar dari sekadar nilai IPK. Ia kini resmi menjabat sebagai Ketua RW 03 di Kelurahan Padasuka, Kota Cimahi, Jawa Barat menjadikannya salah satu ketua RW termuda yang pernah tercatat di kota tersebut.
Ada satu hal yang menarik dari kisah Raka sebelum menjadi Ketua RW 03, yakni dia suka bermain game SimCity atau game simulator pembangunan kota, yang dari sini lah awal mula ketertarikannya dan akhirnya dapat membangun daerahnya secara nyata.
Dari Gim ke Dunia Nyata
Cerita ini bermula jauh sebelum pemilihan RW atau konten viral banjir. Cerita ini bermula dari sebuah game. Antara usia lima hingga sepuluh tahun, Raka menghabiskan berjam-jam di depan komputer memainkan game bergenre city builder genre permainan yang menantang pemainnya untuk membangun dan mengelola sebuah kota dari nol.
Ia akrab dengan SimCity, Cities: Skylines, hingga Manor Lords yang merupakan tiga game dengan masing-masing mengajarkan kompleksitas berbeda dari pengelolaan ruang, infrastruktur, dan kehidupan warga.
Bagi kebanyakan orang, game hanyalah hiburan. Bagi Raka, game adalah ruang berpikir. Setiap sesi bermain mengajarkannya bahwa mengelola komunitas bukan perkara satu solusi untuk satu masalah, melainkan sebuah sistem yang saling berkaitan, di mana satu keputusan bisa berdampak pada puluhan hal lainnya.
Rasa penasaran itu tidak dibiarkan menggantung. Raka memilih untuk turun langsung ke lapangan dan menyentuh realitas sosial yang selama ini ia bayangkan lewat simulasi digital. Dan keputusan itu membawanya pada langkah yang mengubah segalanya: mencalonkan diri sebagai Ketua RW di usianya yang baru 22 tahun.
Baca juga: Pragmata: Game Capcom yang Buat Pemain Ingin Menjadi Ayah
Melawan Arus dan Dipercaya
Jalan menuju kursi Ketua RW tidak sepenuhnya mulus. Pencalonan Raka disambut skeptisisme dari sebagian warga. Faktor usia adalah hambatan paling nyata. Banyak yang meragukan dengan mungkin berpikir, apa yang bisa dilakukan anak muda semester sembilan yang belum selesai kuliah terhadap permasalahan yang sudah bertahun-tahun mengendap di wilayah ini.
Raka tidak menjawab keraguan itu dengan amarah. Ia menjawabnya dengan pendekatan dari rumah ke rumah, ia sampaikan gagasan, program, dan visi perubahannya secara langsung. Proses pemilihan yang semula diikuti empat calon akhirnya mengerucut menjadi dua kandidat, Raka dan petahana yang sudah menjabat selama lima tahun.
Pada hari pemilihan, kepercayaan warga mengalir deras, Raka meraih 65 persen suara. Yang menarik, ia membiayai seluruh kampanyenya secara mandiri, tanpa sokongan finansial dari keluarga. Modal sekitar Rp 30 juta ia kumpulkan dari jejaring dan relasi yang dibangunnya selama bertahun-tahun sebagai wirausahawan muda.
Kinerja Nyata
Salah satu persoalan paling krusial di kawasannya adalah banjir. Selama lebih dari 25 tahun, wilayah RW 03 Padasuka sudah menjadi langganan genangan air. Setiap musim hujan, cerita yang sama berulang: rumah terendam, aktivitas terhenti, dan warga pasrah.
Sebelum resmi terpilih, Raka sudah mengambil langkah yang kini menjadi salah satu momen paling menentukan dalam kisahnya. Ia mengunggah kondisi banjir di wilayahnya ke media sosial. Konten itu viral, dan akhirnya menarik perhatian langsung Wali Kota Cimahi serta Camat setempat untuk turun ke lapangan.
Dari peninjauan itu, ditemukan akar masalahnya: sebuah belokan saluran air 90 derajat yang selama puluhan tahun menghambat aliran. Masalah yang ternyata bisa diselesaikan, bukan takdir yang harus diterima.
Saifan Zaking