Daftar Barang yang Harganya Dikendalikan Dolar, Dari BBM Hingga Elektronik!

  • Saifan Zaking

Banyak orang mengira pelemahan rupiah hanya merugikan kalangan atas atau mereka yang sering bepergian ke luar negeri. Faktanya, hampir semua masyarakat Indonesia bersentuhan dengan dolar AS setiap hari bukan secara langsung, melainkan lewat harga barang kebutuhan yang bahan bakunya diimpor.


Mekanismenya sederhana: ketika rupiah melemah terhadap dolar AS, biaya impor naik. Biaya produksi naik. Harga di pasar naik. Dan yang menanggung ujungnya adalah konsumen akhir, seperti pedagang gorengan, ibu rumah tangga, petani, sopir, dan hampir semua lapisan masyarakat.


Inilah enam barang sehari-hari yang ketergantungannya pada dolar AS jarang kita sadari.


Baca juga: Tembus 18.000 Per Dolar AS: Apa yang Terjadi Jika Rupiah Makin Melemah?


Tahu dan Tempe


Tidak ada lauk yang lebih merakyat dari tahu dan tempe. Murah, bergizi, dan tersedia di warung mana pun. Namun di balik kesederhanaannya tersimpan ketergantungan yang mengkhawatirkan, hampir 80% bahan bakunya, yaitu kedelai, harus didatangkan dari luar negeri.


Produksi kedelai dalam negeri sudah stagnan sejak lama. Berdasarkan data BPS, pada 2020–2021 produksi kedelai nasional nyaris tidak bertambah, hanya berkisar 200.000 ton per tahun. Sementara kebutuhan nasional mencapai lebih dari 2,5 juta ton. Artinya, kekurangan yang harus ditutup lewat impor sangat besar dan impor itu, tentu saja, dibayar dalam dolar AS.


Pada 2023, Indonesia mengimpor sekitar 2,67 juta ton kedelai senilai USD1,47 miliar. Amerika Serikat mendominasi pasokan dengan porsi 85,47% dari total volume impor senilai USD1,26 miliar diikuti Kanada dan Brasil. Artinya, setiap kali rupiah melemah terhadap dolar, tagihan impor kedelai dalam rupiah membengkak, dan produsen tahu-tempe tidak punya pilihan selain menaikkan harga atau mengecilkan ukuran produk mereka. Yang merasakannya bukan pengusaha besar — melainkan ibu rumah tangga yang berbelanja di pasar tradisional.


Mi Instan, Roti, dan Kue


Indonesia adalah konsumen mi instan terbesar kedua di dunia. Kita memakan miliaran bungkus setiap tahunnya. Namun satu fakta dasar yang sering terlupakan adalah: Indonesia tidak bisa memproduksi gandum. Negara kita yang beriklim tropis ini tidak cocok untuk tanaman serealia itu, sehingga seluruh kebutuhan tepung terigu untuk mi instan, roti, aneka kue, hingga pakan ternak harus dipasok dari luar negeri, dibeli dalam dolar AS.


Pada 2023, impor gandum Indonesia mencapai 10,87 juta ton dengan nilai mencapai USD3,67 miliar atau sekitar Rp 57 triliun menjadikannya komoditas impor terbesar Indonesia berdasarkan volume, mengalahkan beras dan gula. Angka itu bahkan masih terus meningkat: sepanjang Januari hingga September 2024 saja, impor gandum sudah menyentuh 9,45 juta ton, tumbuh 19,5% secara tahunan.


Australia adalah pemasok terbesar dengan kontribusi sekitar 40%, diikuti Kanada, Argentina, Ukraina, dan Rusia. Ketika konflik Rusia-Ukraina pecah beberapa tahun lalu, harga gandum global melonjak tajam dan Indonesia langsung merasakannya lewat kenaikan harga tepung terigu. Itu bukan kebetulan, itu konsekuensi dari ketergantungan yang sudah berlangsung puluhan tahun dan belum ada solusi strukturalnya.


BBM


Harga minyak dunia ditetapkan dalam dolar AS. Ini fakta dasar yang sudah diketahui luas, namun implikasinya terhadap kehidupan sehari-hari sering tidak disadari sepenuhnya. Ketika rupiah melemah, tagihan impor BBM yang harus dibayar Indonesia otomatis membengkak, meski harga minyak internasional tidak bergerak sekalipun. Pertamina saja diketahui memerlukan antara 60 hingga USD80 juta setiap harinya untuk mengimpor minyak mentah dan hasil olahan BBM.


Produksi minyak dalam negeri terus menyusut dan sudah tidak mampu mencukupi kebutuhan energi nasional yang terus tumbuh. Sepanjang Januari hingga September 2024, nilai impor minyak dan gas Indonesia mencapai USD26,74 miliar, naik dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Total impor BBM sepanjang 2024 sendiri menembus USD12,4 miliar.


Dampaknya tidak berhenti di SPBU. Kenaikan harga BBM mengerek ongkos angkut, yang mengerek biaya distribusi, yang mengerek harga hampir semua barang di pasar. Itulah mengapa gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar tidak hanya terasa di pompa bensin melainkan di harga cabe, bawang, ikan, hingga jasa ojek.


Daging Sapi


Populasi sapi nasional tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat Indonesia yang terus bertumbuh. Berdasarkan data BPS, produksi lokal diperkirakan hanya mampu menghasilkan sekitar 281.000 ton daging per tahun, sementara kebutuhan nasional pada 2024 ditetapkan mencapai 720.000 ton. Defisit lebih dari 400.000 ton itu harus ditutup dari impor, baik dalam bentuk daging beku maupun sapi bakalan hidup, semuanya transaksinya berjalan dalam dolar AS.


Pada 2023, Indonesia mengimpor daging sapi sebanyak 238.433 ton senilai USD834,28 juta. Negara pemasok utamanya adalah Australia, India, dan Amerika Serikat. Angka ini memang sedikit turun pada 2024 menjadi 183.180 ton, namun ketergantungan strukturalnya tidak berkurang, bahkan proyeksi ke depan menunjukkan kebutuhan akan terus tumbuh seiring pertambahan penduduk dan program gizi nasional yang meningkatkan konsumsi protein hewani.


Setiap kali ada tekanan pada nilai tukar rupiah, konsumen yang ingin membeli daging sapi di pasar langsung merasakannya. Harga yang naik bukan karena pasokan lokal berkurang, tapi karena biaya impor yang harus dibayar dalam dolar ikut membengkak.


Baca juga: Cuma Modal 1 Dolar, Bisa Jajan Apa Aja di Indonesia?


Ponsel dan Elektronik


Indonesia memiliki lebih dari 168 juta pengguna ponsel, salah satu pasar smartphone terbesar di dunia setelah China, India, dan Amerika Serikat. Namun hampir tidak ada ponsel yang diproduksi secara mandiri di sini. Industri manufaktur elektronik dalam negeri masih sangat terbatas, sehingga kebutuhan itu dipenuhi hampir seluruhnya dari impor, dengan China sebagai pemasok dominan yang menguasai hingga 99% smartphone impor Indonesia.


Nilai impor smartphone pada 2023 melonjak drastis menjadi USD1,97 miliar, naik hampir 172% dibanding tahun sebelumnya. Tren itu berlanjut pada 2024 di level yang hampir sama, sebelum kembali melonjak signifikan pada 2025. Defisit neraca dagang produk elektronik Indonesia sudah tercatat pada 2023 nilai impor jauh melampaui ekspor.


Data historis dari Kementerian Perindustrian menunjukkan betapa langsung dampak pelemahan rupiah terhadap sektor ini: harga ponsel bisa naik rata-rata 10% setiap kali kurs terguncang, dan penjualan bisa langsung anjlok hingga 20%. Bagi banyak orang, mengganti ponsel atau membeli laptop adalah kebutuhan bukan kemewahan. Dan harga kebutuhan itu bergerak seiring nilai tukar rupiah.


Pupuk Pertanian


Ini mungkin yang paling jarang disadari orang. Petani yang tampaknya sama sekali tidak berurusan dengan dolar AS yang hidupnya di ladang, yang menjual padi dan cabai di pasar lokal pun sejatinya sangat terpengaruh oleh nilai tukar. Jembatannya adalah pupuk.


Pupuk urea, jenis pupuk paling umum digunakan petani Indonesia, diproduksi dari gas bumi sebagai bahan bakunya. Gas bumi menyumbang hingga 80% dari total biaya produksi urea. Dan harga gas bumi mengikuti pasar energi global yang berpatokan pada dolar AS. Fluktuasi kurs dolar, ditambah dinamika geopolitik yang memengaruhi harga energi global, langsung menekan biaya produksi pupuk  dan pada gilirannya, biaya produksi petani itu sendiri.


Selain itu, untuk pupuk jenis NPK (Nitrogen-Fosfor-Kalium) yang dibutuhkan untuk banyak tanaman pangan, Indonesia masih sangat bergantung pada impor bahan baku mineral seperti fosfat dan kalium. Mineral-mineral ini tidak tersedia secara alami di dalam negeri, sehingga harus diimpor dari luar lagi-lagi, dalam dolar AS. Total impor bahan baku pupuk ini mencapai sekitar 3 juta ton per tahun.