IHSG Turun, Bitcoin Turun, Rupiah Turun: Efek Piala Dunia atau Apa?

  • Bayu Dewantara

Warna merah merona agaknya mendominasi portofolio para investor. Mulai dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), nilai tukar Rupiah, sampai harga Bitcoin (BTC), semuanya kompak terjun bebas.


Melihat fenomena market crash yang barengan ini, banyak spekulasi bertebaran di media sosial. Salah satu teori liar netizen adalah, apakah ini semua akibat euforia demam Piala Dunia 2026? Menariknya, analisis data keuangan dan on-chain terbaru menunjukkan kalau anggapan ini ternyata bukan sekadar mitos atau cocoklogi belaka. Yuk, kita bedah fakta aslinya!


Pasar Saham Indonesia Boncos, IHSG Jatuh di Bawah Level Psikologis 



(Source: kaptensaham707)


Kondisi bursa saham domestik terpantau sedang tidak baik-baik saja. IHSG mencatatkan penurunan drastis hingga -4,11% atau ambles 254 poin ke level 5.941. Secara Year to Date (YtD), performa indeks kebanggaan kita ini sudah anjlok sekitar 31%.


Pemicu utamanya di pasar modal adalah aksi outflow alias kaburnya modal investor asing secara masif dari pasar ekuitas Indonesia. Tercatat modal asing keluar senilai Rp864 miliar dalam waktu singkat.


Respon Menkeu Bapak Purbaya Mengenai IHSG yang Melemah


Di tengah kepanikan pasar yang melihat IHSG ambles ke level 5.000-an, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa justru menanggapi situasi ini dengan santai. Purbaya optimistis bahwa tren pelemahan indeks saham domestik ini hanya bersifat sementara alias jangka pendek.

Menurutnya, masyarakat tidak perlu panik berlebih karena fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih dalam kondisi yang sangat baik. "Kondisi ekonominya bagus, enggak ada masalah. Dari pendapatan pajak di bulan Mei saja masih kencang gitu," tegas Purbaya di Gedung DPR. Menkeu menilai koreksi tajam ini lebih banyak dipicu oleh sentimen sesaat dan berbagai rumor negatif yang beredar di pasar, bukan karena masalah struktural ekonomi nasional

Nilai Tukar Rupiah Jeblok Tembus Rp18.000 per Dolar AS


Gorengan isu makroekonomi makin renyah setelah nilai tukar Rupiah spot secara intraday sempat menembus angka psikologis baru yang cukup bikin kaget saat bangun pagi hari ini, yaitu Rp18.000 per Dolar AS. Melemahnya mata uang Garuda ini sejalan dengan larinya dana asing keluar dari pasar keuangan dalam negeri (capital outflow).


Bitcoin Ikutan Longsor Akibat Miliaran Dolar Keluar dari ETF


Nggak cuma aset tradisional, aset digital kesayangan Gen Z juga kena imbasnya. Harga Bitcoin (BTC) tergelincir 5,25% ke level US$63.300 (sekitar Rp1,13 miar), yang memicu gelombang likuidasi masif di pasar derivatif hingga mencapai US$1,8 miliar.


Dilansir dari Ajaib, tekanan kripto berasal dari melemahnya permintaan institusional, di mana ETF Bitcoin Spot mencatatkan total outflow fantastis tembus US$3,4 miliar sejak Mei. Investor kakap tersebut dilaporkan mulai melakukan rotasi modal (shifting) ke sektor saham teknologi dan kecerdasan buatan (AI) di bursa Wall Street yang dinilai lebih menguntungkan


Baca juga: Cara Jitu Bapak BJ Habibie Sikapi Nilai Rupiah 16.000/USD Saat Krismon: Belajar dari Kesalahan!


"Kutukan Piala Dunia" di Pasar Kripto: Mitos atau Fakta Realistis?


Kalau IHSG atau rupiah itu tentu sejalan karena faktor ekonomi, baik dari ketegangan politik dunia, harga minyak, kebijakan politik dalam negeri dan lain sebagainya. Namun, terkhusus untuk pasar kripto, hubungannya dengan sepak bola sedikit masuk akal. 

Berdasarkan data historis, turnamen 4 tahunan ini selalu dibayangi fenomena Inatensi Investor dan pengurasan likuiditas massal. Siklus Bitcoin mencatat performa buruk tiap tahun Piala Dunia: anjlok 50,2% pada 2014 (Brasil), hancur lebur 72,1% pada 2018 (Rusia), dan tumbang 62% pada 2022 (Qatar).

Mengenai efek piala dunia ke dunia kripto, agaknya banyak orang punya asumsi masing-masing, salah satunya efek perputaran uang baik itu judi legal maupun ilegal. 

Kondisi teknikal Bitcoin sendiri memang sudah mengalami overbought alias jenuh beli, sehingga koreksi tajam sulit dihindari. Ditambah aksi jual dari investor retail maupun institusi seperti Michael J. Saylor yang mulai menjual hingga 32 btc, efek domino penurunan bisa saja menyeret BTC menuju zona support psikologisnya.

Kalau menurut Oppal Gengs gimana dengan penurunan harga pasar saat ini?